motivasi untuk si kecil

Motivasi dapat kita kategorikan menjadi dua jenis, berdasarkan sumber atau asal munculnya motivasi.  Yang pertama adalah motivasi internal dan kedua motivasi eksternal. Motivasi internal datangnya dari
dalam diri sendiri seperti misalnya idealisme, komitmen, ideologi dan rasa cinta. Oleh karena asalnya dari dalam diri sendiri, motivasi ini biasa langgeng alias mampu bertahan lama. Sebaliknya motivasi eksternal datang karena faktor stimulus dari luar diri kita. Misalnya: untuk membangun motivasi kerja digunakan strategi promosi atau kenaikan jabatan, anak dijanjikan jalan-jalan ke luar negeri apabila jadi juara kelas, dan lain-lain. Seringkali motivasi eksternal membawa dampak lebih cepat, namun motivasi ini biasa tidak bertahan lama, apalagi jika stimulusnya menghilang. Salah satu cara membangun motivasi internal adalah membangun rasa percaya diri. Percaya diri bisa diartikan sebagai penerimaan terhadap diri sendiri dalam arti yang positif. Kita merasa diri berharga sehingga bisa menerima dan mengendalikan diri kita sepenuhnya. Orang-orang yang memiliki rasa percaya diri bagus terlihat dari sikapnya yang mandiri, disiplin dan mampu mengontrol diri sendiri. Mereka juga bersedia menerima serta menunaikan tanggungjawab yang diberikan kepadanya. Kebiasaan-kebiasaan yang dapat membangun rasa percaya diri tidak terjadi begitu saja melainkan harus ditanamkan sejak kecil. Dengan mendidik anak membangun rasa percaya dirinya, secara tidak langsung kita juga mendidik anak mengembangkan motivasi internalnya. Beberapa kiat yang dapat digunakan untuk membangun rasa percaya diri pada anak sebagai berikut: Berikan Anak Tanggung Jawab Berilah anak-anak pekerjaan yang harus diselesaikannya. Tentu sesuaikan dengan usia serta kapasitas anak. Misalnya: mengambilkan sesuatu, membantu menyiram bunga dan membeli sesuatu di warung sebelah. Anak yang lebih dewasa tentu dapat diberi tanggungjawab yang lebih besar, seperti pekerjaan rumah tangga ringan dan lain-lain. Berilah pemahaman bahwa anak dapat ikut memberi kontribusi  sehingga mereka berusaha menunaikan tugasnya dengan baik. Biarkan anak menyelesaikan masalahnya Jangan terburu-buru mengambil alih saat anak-anak menemui masalah. Pada keadaan-keadaan tertentu, biasakan anak menganalisa masalahnya dan mengambil inisiatif awal untuk menyelesaikan masalahnya  sendiri. Berikan anak pendampingan dengan memberikan alternatif solusi-solusi yang bisa diambil untuk memecahkan masalah. Sebagai orang tua kita baru bertindak, jika peran orang tua benar-benar dibutuhkan. Berikan pujian Jangan lupa berikan pujian yang pantas jika anak berhasil menyelesaikan masalahnya. Begitu pula saat anak kiat melakukan hal-hal positif atau berhasil mempelajari sesuatu. Belajar dari kegagalan Seringkali anak-anak berhenti berusaha saat menemui jalan buntu atau mengalami kegagalan. Berilah anak-anak pemahaman bahwa kegagalan bukan sebuah hasil. Kegagalan adalah bagian dari sebuah proses belajar yang harus dilalui. Justru dari kegagalan kita bisa mempelajari sesuatu agar hasil berikutnya jauh lebih baik. Hindari kata-kata Negatif Hindari memberi label negatif pada anak-anak kita seperti misalnya: bodoh, cengeng atau anak bandel, dan istilah negatif lain terutama pada anak di akhir usia balita yang notabene sedang giat-giatnya menyerap pembelajaran dari lingkungannya. Lama kelamaan, di alam bawah sadarnya, anak pun akan memberi stigma pada dirinya sesuai dengan label yang kita berikan. Ini sangat kontraproduktif. Alih-alih mau memberi motivasi, anak justru akan semakin bodoh, atau cengeng sesuai dengan kata-kata negatif kita. Beri Contoh Orang tua akan menjadi contoh paling pertama bagi anak. Jadi untuk membangun rasa percaya diri pada anak, orang tua harus terlebih dahulu menunjukkan rasa percaya dirinya yang kuat.  Ini bisa terlihat dari gesture orang tua saat bersosialisasi dengan tetangga atau komunitas, sikap tegas, disiplin serta bagaimana orang tua menghargai dirinya sendiri di depan anak-anak. Selain membangun rasa percaya diri, kiat-kiat lain yang bisa dilakukan untuk membangun motivasi internal anak adalah memberi endorse pada karakter positif anak. Kemudian jika anak mempelajari sesuatu yang sifatnya kompleks, orang tua dapat mengarahkan anak untuk membagi target belajarnya menjadi bagian-bagian yang kecil, kemudian mendampingi anak  untuk mengawal progress belajarnya bagian demi bagian. Misalnya: anak ingin pandai bermain piano, terlebih dahulu tentu anak harus belajar memainkan tangga nada sederhana. Dorong anak untuk bersemangat belajar tangga nada sederhana tersebut, dan pujilah anak untuk setiap pembelajaran yang berhasil, sekecil apapun pencapaiannya. Kiat-kiat ini ampuh digunakan pada masa anak sedang giat-giatnya menyerap pelajaran mulai dari usia 7-10 tahun. Namun sebelum usia tersebut, kita juga sudah bisa mengarahkan anak belajar membangun motivasinya saat anak berusia 4-6 tahun dimana pada rentang usia ini anak mulai belajar menginternalisasi nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya. (PG)

sumber : http://www.kompasiana.com/picalgadi/rasa-percaya-diri-kembangkan-motivasi-anak_56702fed8023bda20a98873a

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *